Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2009

KARENA AKU KATALISMU

Ingatkah akan senandung malammu yang sumbang? Senada ruh-ruh yang meratap dalam garis tepian malang Sambil memandang langit pupus pada daun jendela Engkau pun bersemedi tangis Meratap keperawananmu yang hilang oleh sengat-sengat kumbang Adakah engkau bunga? Aku angin Bukan kumbang Jika kumbang memetikmu karena nafsu si ratu Aku hanyalah angin karena tekanan panas kepada dingin Aku menghadirkan sari kepada putik dalam garis-garis leluhur Aku tidak menginginkan sekelopak pun darimu Aku hanya ingin engkau tetap berbuah ketika musim senyum tiba Bahkan ketika dayaku punah karena jarak pekat tak bertatap (malang, 20/10/2009)

QUO VADIS PARIWISATA KSB?

Oleh: Wahyu Firmansyah* Bagai berlian Nusa Tenggara, mungkin begitulah ungkapan yang tepat untuk mewakili indahnya wisata di KSB. Keindahannya tersimpan jauh di kedalaman bumi, perlu kerja keras untuk menikmati kemilau cahanya, supaya semua mata menjadi betah berlama-lama memandang setiap inchi garis-garis pantai, butir-butir putih pasir, gugusan bukit-bukit, dan exotic -nya budaya yang dihadirkan masyarakatnya. Pun nilai nominalnya tidaklah murah dibandingkan segala jenis perhiasan. Begitu indah. Ada baiknya saya berhenti bernostalgia. Berlian yang dihayalkan ternyata masih dalam impian. Saya tidak tahu, apakah proyek pariwisata memang dianggap tidak menjanjikan? Ataukah para Masterplaner pariwisata hanyalah seorang planner saja, without real action sehingga pariwisata di KSB begitu-begitu saja tanpa perubahan? A da baiknya berhenti menuduh, yang jelas pariwisata merupakan sektor yang sangat menguntungkan bagi banyak orang jika dikelola dengan baik dan benar. Di ta