FILM SANG PEMIMPI
Fluktuasi emosi, itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan film Sang Pemimpi. Film sekuel dari Laskar Pelangi ini membuat saya terhenyak kaget. Betapa tidak, dalam hitungan detik kekonyolan secara tiba-tiba berganti kesedihan, kemudian dengan cara mengejutkan, Riri Riza, sang sutradara, mengganti suasana hati penonton dengan menyelipkan satiran-satiran unik khas Andrea Hirata. Memang ini pekerjaan penulis skenario/script, namun apresiasi two thumbs up patut dan harus diberikan kepada team Sang Pemimpi. Sebagai contoh, film Kambing Jantan, suskses novel/buku-nya ternyata tidak membuat filmnya juga sukses, walaupun script-nya ditulis oleh Raditya Dika sendiri. Mengangkat kehidupan rural ke dalam sebuah novel dan film memang selalu lebih menarik dari pada mengankat kehidupan urban yang terkesan mengada-ada. Dengan menggunakan alur menoleh ke belakang, film ini berjalan mundur dari latar dan setting 1990 di Bogor, kemudian berlanjut ke Manggar dan kembali lagi ke Bogor. Pengaturan...