Postingan

Menampilkan postingan dengan label SAJAK-SAJAK WAHYU F.

SKEPTISISME SUMPAH

Di pulau ini tak ada sumpah Siapa yg mesti bersumpah? Apa yg mesti disumpah? Tak ada Tanah sudah tanah air indonesia, katanya Anjing sumbawa cukup melihat dan tidak berhak memiliki, nyatanya Di sini tak berlaku sumpah Karena kata sumpah sudah hambar Dia tak lagi sakral sebagai sebuah janji kepada Tuhan atas kebaikan Bahkan dari mulut Kyai pun, mungkin, sumpah hanya sampah Di pulau ini tak perlu sumpah, sepertinya Sumpah itu sampah, nyatanya Kami membuangnya di tong sampah Di tong sampah pemuda, ada yg khusus untuk sampah pemuda kering, ada yang khusus sampah pemuda basah Sampah pemuda basah bisa dibuat pupuk Sampah pemuda kering bisa dibuat hiasan Itu pun kalau ada yang mau mendaur ulang Perhatian...perhatian! Di sini banyak sampah pemuda! Maukah kita men(di)daur ulang? KSB, 28 Oktober 2012

KENANGAN DALAM

Suatu ketika,  aku akan menemukanmu pada langit bisu yg berawan hitam.            Sehingga sesudahnya,                         bumi menjadi basah tak bernoda.  Memutuskan menikmati malam,        menikmati kedinginan yg berkompot dg kerinduan.  Apa kabar di luar jendela?                                             Kepada butir bulir rindu kepada pepohonan di luar yg menikmati julang.  Kepada yg tak bernama.                                                     Kepada siapa saja entah rindu yg sudah patah, bersama reranting.                   ...

HUJAN 27 MARET 2011

Hujan itu, adalah garis tipis vertikal yang menyerang kita secara gotong royong. kebanyakan hujan itu, hanyalah rindu laut kepada gunung. Seperti anak kecil yg bermain di papan seluncur. Dia naik dan turun. Naik lagi, dan turun lagi. (Seteluk)

TERUNTUK YANG BERMATA HUJAN BULAN

Wahai sejujurnya engkau yang berfase Tulisanku adalah kelembutan bulu anggora Tulisanku adalah burung-burung: Yang pulang Yang kenyang Yang singgah Yang bermigrasi Yang Yin Yang Yang Yang tidak kedinginan walau selepas musim-musim yg beku dan api.. Tulisanku adalah ruang kemungkinan Tulisanku adalah harga diri.. Tulisanku adalah pohon-pohon hutan lindung di sebuah pojok bumi yg berguguran daun kemuning Adalah hatimu yang akan kusemat untuk dijaga agar air tetap mengalir darinya Tulisanku adalah tulisanmu Tulisanku adalah kamu Tulisanku adalah bintang-bintang Ketika semua akan mengalir untukmu jikalau sejujurnya aku mencintaimu wahai engkau yang bermata hujan bulan Malang, 1 April 2010

DI SEBUAH RINDU DENGAN TUHAN

Aku tumbuh seperti spora yang mekar selepas hujan berkabut Aku rindu kepada mentari yang meniadakanku dalam satu putaran terik Di antara tumpukan jerami yang sayup-sayup mengering menyatu Aku rindu kepada-Mu ya Allah Sebuah rindu azali menjelang Muharam yang basah Apakah Hari Kebangkitan itu seperti jamur dalam maya bumi, yang tiada menjelma ada? Pelan-pelan air mataku jatuh Bergunung sukur kepada-Mu Ya Muqollibal Qulub Aku sedang menagis rindu Dan ingin berbagi tangis Pernahkah dikau menangis karena-Nya? Aku pernah dan sedang Seiring sajak ini kuakhiri dengan titik. Di sebuah petang yang jingga (Malang Pukul 18.26, 12 Desember 2009)

KARENA AKU KATALISMU

Ingatkah akan senandung malammu yang sumbang? Senada ruh-ruh yang meratap dalam garis tepian malang Sambil memandang langit pupus pada daun jendela Engkau pun bersemedi tangis Meratap keperawananmu yang hilang oleh sengat-sengat kumbang Adakah engkau bunga? Aku angin Bukan kumbang Jika kumbang memetikmu karena nafsu si ratu Aku hanyalah angin karena tekanan panas kepada dingin Aku menghadirkan sari kepada putik dalam garis-garis leluhur Aku tidak menginginkan sekelopak pun darimu Aku hanya ingin engkau tetap berbuah ketika musim senyum tiba Bahkan ketika dayaku punah karena jarak pekat tak bertatap (malang, 20/10/2009)

KETIKA SURYA PUN MENGGELENG, DI SITULAH CINTA KAMI

Adakah melambai kepadamu kabut putih dalam semesta aksara sendu? Jika belum, biarkan aku jelaskan: Kami merangkai kata agar ungkapan sayang tak sehambar bunga-bunga layu Semua stanza dalam sajak yang kami buat diambil dari telaga hati dalam relung-relung purba Kami mewakili setiap hati yang gundah, sebagaimana surga mewakili hati Suhada Kami berbunga ketika sajak-sajak kami tidak mudah dipahami Karena kami ingin dimengerti dengan hati, bukan dengan mata, telinga, atau jasad-jasad kasar manusia bumi Bukankah cinta juga demikian? Adakah orang yang mengerti cinta? Cinta bukanlah indra, engkau tidak akan pernah mengerti Coba tanyakan saja kepada surya: “Adakah bumi memberi sesuatu atas cintamu kepadanya?” Engkau akan mendapatkan surya menggeleng lalu kemudian tersenyum, bahkan ketika bumi tak acuh dengan berselimut awan Kemudian kami mengemasnya dalam bungkusan riak-riak bunga Karena kami ingin melihatmu tersenyum ketika putih tak...

JANGAN BACA SAJAK INI!

Tapi biarlah. Toh mulutmu tetap satu. Taringmu hanya gigitan nyamuk pada malam yang dingin. Kami bisa berselimut atau membakar obat nyamuk. Lalu mulutmu akan kaku membatu, membisu, lalu membuatmu malu karena menjadi tabu , atau mati pada subuh. Apakah kita sedang berbicara tentang parasit? Halo? Tentang parasit? Ya, kamu mungkin saja parasit. Tapi tidak bagi kami. Karena kau, merupa burung pipit yang sembelit. Kemudian sekarang kamu pura-pura menjerit. Tapi aku tidak bisa kaubohongi, Genit! Karena parit-parit mulai membatasi antara kamu dengan selaksa sempit. Cukup sudah menengadah ke langit wahai walang sangit. Sekali lagi cukup, tengik! Karena gerombolan awan pun ingin kaucekik, supaya bintang-bintang tak lagi berkedip. Supaya kami tak lagi mendelik. Huh, betapa piciknya dirimu, anjrit! Kemudian kamu datang lagi padaku. Berpikir untuk memuntahkan hajatmu. Silakan! Mari! Aku telah mempersiapkan sekeranjang petasan ,kemenyan, bualan, gepalan tanga...

DAWAI-DAWAIMU

Dan aku terpojok dalam lagu sendu ini Tepat di bibir hari yang mengantuk Alunan membawaku untuk sebuah waktu yang pernah kusimpan Dalam mawar berbuah Ketika waktu pun enggan untuk menyisih Demi menemaniku menghitung jumlah senyummu Dan aku terpojok dalam lagu sendu ini Sebuah persekongkolan sederhana antara dawai dan suara manusia mulai menusuk Bermula dari ubun-ubunku Perlahan bermuara pada hidungmu Betapa dawai membuat segalanya terpapar dan kemudian memudar seiring lagu beranjak Malang, Hari Jum’at, 24 juli 2009

FROM DEEPEST WAITING

Does she know that sun is never tired to run-after the moon? Eventhough the moon never respects to it, just fading away when they meet at noon I am here, like the sun which loves the moon, waiting for her, alone, while speaking to myself about love, about loyalty I want to tell her about my waiting, to tell her that i do wait for, using all languages in the world “Aku lagi menunggumu” 1 “aku lagi ngenteni sampean ” 2 “Mentu kutari kau” 3 “23432 23454 7643332” 4 My shadow ploddingly tells me that the one whom i am waiting for will come by the end of time I am sad, doesn’t she know that i am waiting here? Doesn’t she know that i can’t live without her smile? Doesn’t she know that the longer i wait for, the more i miss her? Doesn't she know that anything becomes nothing without her attendance? Should i wait until my half last breath? Till the sun doesn’t shine again (East Java, Indonesia, 4th July 2009, i make this poem to anyone who has still been waiting for her/his love, perhaps...

UNTUKMU, KETIKA KAUTERBANGUN

Bahkan kuncup bunga pun berhenti memekar ketika alunan sajak indah keluar dari bibir indahmu Aku kemudian berdiam, seakan nafasku tersendat oleh aksara langit yang turun menyambar Engkau putih dalam sajak-sajakmu, bening dalam kemunculanmu Kemarilah, ajari aku membuat satu bait saja! Kamu pun menghampiriku dalam senyum, sembari memegang jemariku, menerangkanku tentang maksud bait-bait Rumi Kau mengajariku tentang sejarah huruf, hikayat putri dalam botol anggur, juga tentang sebuah pulau yang tiba-tiba menghilang karena tidak ada lagi cinta oleh penduduknya Kamu pun menanyakanku, “Mana yang lebih dulu ada, huruf atau cinta?” Aku membisu dalam kebingungan “Aku menyukai Umar Khayyam,” ungkapmu Aku mengangguk Diam-diam aku melihat butiran air matamu menyembur dari kelopak matamu, menyatu bersama gurindam yang baru saja kaubuat Gurindam tentang kepedihan Pelan-pelan kuusap air matamu Kukatakan bahwa aku dan bunga mekar selalu meyukai segalanya tentangmu Kuyak...

ENGKAU, SUARAMU, ASAPMU, DAN WANGIMU

Dulu engkau hadir dalam hidupku dalam suara. Segelombang. Tapi kini wujud aslimu telah menerkam segala yang ada. Meraih semua milikku, termasuk hati. Aku tak tahu kenapa dalam suara aku memberi. Otakku terlalu dini merindukan getar-getar saraf penerima indera dari gelombangmu. Aku berani menghadapmu karena aku berpikir engkau hanyalah suara. Tapi aku salah, engkau lebih dari sekedar suara itu. Suaramu menghadirkan kemenyan purba dari leluhur bumi yang tak pernah habis dibakar dalam keramba kuning hampir coklat keemasan. Kemudian hadirlah asapmu. Asapmu yang menghadirkan sosokmu yang asli. Sosok dewi para dewi. Wangimu meniadakan segala bebauan. Sorotan matamu tajam, tapi sayu. Hampir setiap ranah yang kau lewati akan menjadi kelopak bunga mekar seolah ada simfoni mendayu seiring injakan kakimu memukul bumi, laksana pukulan tabla mungkin. Tapi biarlah. Toh tidak semua suara terdengar. Dan bumi mungkin terlalu luas untuk kau jelajah. Aku bisa bersembunyi atau menutup hidungku melawan hip...

SUMSUM UBUN-UBUN

HAMPIR HABIS BAHASA TIDAK KUTEMUKAN LAGI AKSARA AKU MENUNGGU DALAM GEMPITA OLENG TERJEPIT SUMSUM TULANG TANPA SARAF PALU TELAH KAU GENGGAM MENGAYUN KE LINGKARAN UBUN-UBUNKU SEMBARI KAU MUNTAHKAN LIDAH-LIDAH API MEMFONIS, MENGABAIKAN INTERUPSI MEMANG BUMI TELAH BERSEKONGKOL DENGANMU NAMUN KAU LUPA KALAU BUMIMU HANYA BUTIRAN SEMESTA YANG SEBENTAR LAGI TERLEPAS DARI ORBIT MELESAT HILANG BAGAI BINTANG MATI MENELAN WAKTU DAN MASSA SENDIRI DALAM SENYAP MERAYAP ******* LANGIT YANG MEWARNI ENGKAU UBAH MENJADI SELUBUNG MENDUNG BAGAI RIAK GESEKAN PALUNG SEPERTI KECIL, NAMUN MERAYA PADA SEBUAH TANJUNG MENGENALMU BAGAI MENYUSUN MUSIM-MUSIM YANG BERLALU PADA SEBUAH WAKTU YANG PERNAH KUBUANG NAMUN JUGA TERKAIS BERTEPI SEPERTINYA AKAN LEBIH BAIK JIKA TELAH TERLIHAT JALAN SUDAH MULAI DIGULUNG.

HANYA TIDAK INGIN MATAHARI HUJAN

Tanyakan kepada cahaya, adakah dia menyimpan bayanganku? Atau kepada udara, kenapa tak hantarkan gelombang merdu penggetar tulang sanggurdiku? Sementara ada kupu-kupu putih, gemerisik daun jatuh, geliatan pelan bunga mekar, juga sepasukan kumbang berebut nektar sambil mencemooh putik. Ada aku di pojok jendela. Menatap musim air yang baru saja membara. Aku suka matahari. Aku juga suka hujan. Aku hanya tidak suka matahari hujan, karena pasti meniadakan bumi, bumi manusia.

MUSYAWARAH PUISI

Ketika aku merindu ribuan sajak tercipta Pun ketika sedih Apakah Tuhan memang tidak ingin kita berada dalam keabu-abuan? Segera mengambil warna dan melukislah Malam ini aku ingin melukismu dalam mimpiku Dan jika kau pun melukis Sudikah dikau melukisku? Tariklah kuasmu Gambarlah walau hanya batang hidungku Biar aku bisa bernapas dalam cinta (Malang 10/01/09) Terkadang aku ingin menjadi bantal guling saja biar bisa dekat padamu Menemani tidurmu Memberimu kenyamanan Yang walaupun resikonya ditendang, ditindih, dan dikentut Atau kamu masih ngompol? Tak apa Yang penting aku bisa melihat matamu Matamu yang indah nan damai Menusuk ulu hati Aku memandangmu dalam serambi surgawi Terbalut burQa laksana peri Aku ingin melihatmu terbalut gaun islami Karena itu citaku tertinggi (Malang, 12/01/09) Kita bagai dua noktah yang terhalang jarak dan waktu Yang hanya dekat dalam ruang gelombang digital Aku tau kalo jarak berbanding lurus dengan kecepatan dan waktu (s = v.t) Karenanya tak mungkin aku mengga...

MERUSAK KOMPAS

Adalah karena ketidaktahuanku tentang apa yang terjadi besok aku ingin tetap mendekat padamu Kamu mungkin tidak tahu tentang pengetahuanku tentangmu Tentang segala "Telah kudengar detuk jantungmu," ungkap Soe HOek Gie Tapi aku lebih: Telah kudengar gerakan darah dalam arteri dan venamu Aku merindu, bukan kepadamu, namun kepada SEMUA yang melekat padamu cccccc Lebih baik menjadi tiADA jika dalam ke-ADA-anku tidak membuatmu ADA Aku ingin bersamamu menjelajah sebuah tempat terasing Kemudian segera merusak kompas agar kita tidak segera pulang Tersesat, tetapi ber-2-1-7an Berjalan menembus semak meninggalkan bekas telapak yang takkan terhapus hujan semusim Kita akan terus berjalan Kita bahkan tidak mau melihat bintang karena kita tetap ingin tersesat Kemudian kita menemukan jalan lapang dan mulus yang lebih menjanjikan Apa justru dengan "ketersesatan", kita mendapat arah? (Malang 4-5 Januari 2009)