Postingan

SUMBAWA BARAT DAN DEMAM CILOKAK

Gambar
Ketika tulisan ini saya buat, saya baru saja selesai melihat pentas “cilokak” tepat di belakang rumah saya. Acara ini terlaksana karena adanya hajatan pernikahan di kampung kami. Aduhai ramainya! Puluhan bahkan ratusan anak-anak dari TK/SD/SMP asik bersila menonton bahkan ada yang ikut "bergabung" dalam acara yang diperagakan tepat di bahu jalan ini. Acara beginian boleh dikatakan sudah sering dilaksanakan. Untuk diketahui, “cilokak” merupakan kesenian berupa permainan musik dan tarian oleh beberapa muda-mudi yang dipertontonkan kepada khalayak ramai. Di beberapa tempat kesenian ini dinamakan “kecimol”. Saya kurang tahu apakah kesenian ini sudah termodifikasi atau belum. Di Seteluk, laki-laki yang memiliki uang berhak masuk untuk berjoget. Kemudian beberapa perempuan menyambut para lelaki ini sambil “merebut” uang dari tangannya sebagai “pemberian”. Sambil berjoget, para penari ini terkadang “nakal” menyentuh (maaf) pantat si perempuan. Tak mau kalah, penari perempuan...

NARSISNYA KONSUL JENDRAL AMERIKA ATAS PEMBERDAYAAN NEWMONT

“Yang saya tahu ada investor besar di Sumbawa Barat dan sangat senang dengan hal itu. Sangat banyak kontribusi untuk bidang pendidikan,” (Joaqin Monserrate, Konjen Amerika Serikat, PSnews) Ungkapan Konsul Jendral (Konjen) Amerika ini disampaikannya ketika dia berkunjung ke Kabupaten Sumbawa pada 28 Maret 2013 lalu. Tujuan kedatangannya adalah untuk menampung masukan-masukan dari masyarakat atas keberadaan perusahaan asal negaranya (Newmont) di Sumbawa. Sebagai seorang Konsul Jendral Amerika yang diangkat dan ditugasi sebagai wakil negaranya dalam mengurus kepentingan perdagangan atau perihal warganegaranya di negara lain, ungkapan sang Konjen ini patutlah dicermati secara mendalam. Dalam ungkapannya di atas, sang Konjen menyimpulkan sendiri bahwa keberadaan investor asal negeranya telah memberi kontribusi sangat banyak bagi pendidikan di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) tempat perusahaan tersebut beroperasi. Benarkah hal tersebut? Analisis Bahasa Jika dianalisa ungkapan...

MENILIK MODEL PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUDAYA SUMBAWA

Sering sekali kita mereduksi bahwa pendidikan karakter adalah hak dan kewajiban sekolah. Saat ada anak yang berlaku kurang baik, kita kadang spontan berucap, “Kayak orang yang tidak sekolah.” Sekolah masih dianggap sebagai institusi pembangun karakter utama. Padahal kalau dihitung, intensitas “pendidikan” di sekolah tidaklah sebanyak “pendidikan” di rumah dan di masyarakat. Pembelajaran di sekolah juga masih dilaksanakan satu arah (guru-murid) sehingga nyaris kering dengan interaksi sosial. Belum lagi pendidikan sekolah, kalau mau jujur, lebih banyak membangun aspek kognitif daripada afektif dan psikomotorik siswa. Melihat kenyataan yang ada secara kontekstual, pendidikan di rumah dan masyarakatlah yang menurut penulis paling banyak mempengaruhi pembangunan karakter siswa, apalagi dalam ruang dan waktu di Sumbawa Barat saat ini. Di rumah, anak-anak langsung diajarkan pendidikan karakter oleh orang tuanya baik secara sadar maupun tidak melalui pemodelan (behavioris). Anak-anak menc...

SUMBAWA BARAT DAN BISUNYA SEKOLAH/UNIVERSITAS

"Nenek menginginkanku mendapatkan pendidikan, oleh karena itu ia melarangku sekolah (kuliah)" (Margaret Mead) Ungkapan Margaret di atas mungkin ada benarnya juga. Saya sebagai seorang pendidik lumayan malu juga ketika sekolah dan universitas tidak mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang ada dalam masyarakat. Sekolah dan kampus yang seharusnya menjadi pemberi solusi terhadap permasalahan yang ada dalam masyarakat dan lingkungannya, justru diam membisu, bahkan tak jarang sekolah dan kampus menjadi sumber masalah. Lihatlah, tembok-tembok sekolah dan universitas dibangun tinggi-tinggi. Sekolah dan kampus tersekat dengan lingkungannya. Tembok-tembok itu seperti pembuat batas antara sekolah dan masyarakat. Padahal, sekolah terbaik ada dalam masyarakat, dan guru terbaik adalah alam. Di dalam kelasnya, pelajar dan mahasiswa khusuk belajar seolah-olah dunia ini bisa dipelajari hanya dengan tinggal di dalam kelas. Di Sumbawa Barat ini, kita jarang sekali, atau mungki...

MENASEHATI ORANG, MARIO TEGUH & LEBARAN HARI JUMAT

Jika hari raya Idul Fitri/Adha jatuh pada hari Jumat. Maka hukum sholat Jumat pada hari itu boleh ditinggalkan. “Sungguh telah berkumpul pada hari kalian ini dua hari raya. Maka barangsiapa berkehendak (shalat hari raya), cukuplah baginya shalat hari raya itu, tak perlu shalat Jumat lagi. Dan sesungguhnya kami akan mengerjakan Jumat.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al Hakim) Atas dasar itulah, pada Idul Adha yang kemaren, karena suatu hal, kami tidak melakukan sholat Jumat, tapi diganti dengan sholat Dzuhur. Saya termasuk orang yang percaya bahwa perintah Rasul selalu memiliki hikmah. Maka saya pun mencoba menebak-nebak, kenapa Rasulullah m embolehkan kita meninggalkan sholat Jumat khusus untuk hari itu. Sholat Jumat dan Sholat Idul Adha/Fitri, sebagaimana diketahui, diwajibkan diisi dengan ceramah. Artinya jika sholat Jumat tetap diwajibkan pada hari itu, maka peserta sholat pada hari itu mendapatkan dua ceramah sekaligus dalam selang waktu yang sebentar (selang waktu antara ...

SKEPTISISME SUMPAH

Di pulau ini tak ada sumpah Siapa yg mesti bersumpah? Apa yg mesti disumpah? Tak ada Tanah sudah tanah air indonesia, katanya Anjing sumbawa cukup melihat dan tidak berhak memiliki, nyatanya Di sini tak berlaku sumpah Karena kata sumpah sudah hambar Dia tak lagi sakral sebagai sebuah janji kepada Tuhan atas kebaikan Bahkan dari mulut Kyai pun, mungkin, sumpah hanya sampah Di pulau ini tak perlu sumpah, sepertinya Sumpah itu sampah, nyatanya Kami membuangnya di tong sampah Di tong sampah pemuda, ada yg khusus untuk sampah pemuda kering, ada yang khusus sampah pemuda basah Sampah pemuda basah bisa dibuat pupuk Sampah pemuda kering bisa dibuat hiasan Itu pun kalau ada yang mau mendaur ulang Perhatian...perhatian! Di sini banyak sampah pemuda! Maukah kita men(di)daur ulang? KSB, 28 Oktober 2012

NIMON

Emak memasak nasi buat tamu, anaknya yg kurus2 kebagian keraknya. "Gak enak sama tamu," kata Emak kepada kami. Sudah 13 tahun tamu itu tinggal di rumah, dan Emak tetap mengatakan, "Gak enak sama tamu," Dan kami tetap, kebag ian kerak nasi. Pegawai puskesmas baru saja datang ke rumah mengunjungi kami. "Anak2mu terkena busung lapar. Asupan karbohidratnya terlalu rendah," kata seorang mantri kepada Emak. Para tamu yg tinggal di rumah tertawa. Menertawakan kami yang buncit tapi baik hati ini. Kami juga ikutan ketawa. Emak hanya tersenyum. Pada suatu hari Emak bermimpi. Dia menceritakan bahwa dalam mimpinya Tuhan menaruh emas di gunung belakang rumah kami, tetapi emas itu diperuntukkan buat orang2 yg tinggal jauh ribuan kilometer dari tempat kami. Bukan buat kami, tapi buat tamu kami yang lain. Kata Emak (masih menceritakan mimpinya), mereka tamu yang spesial. Tamu itu dari spesies manusia, tapi pemakan batu. Mendengar kabar bahwa tamu yang akan datang itu pem...